Wednesday, December 5, 2007
JOHN
Its kind of very hard still for me to understand him. Maybe its because he never opens himself to me.
In many times, he told me about how he feels to me
he told me, that I could not imagine how much he felt without me on his side
he could not imagine how much emptyness i feel without him
i am now feeling dissapointed to him because he is dissappearing
anger
my fighting anger on my mind and my heart
Does he ever care about me
whats going on with me
believe me, its no use if he does not tell me
I am not a mind reader
yes, trust is needed in such a relationship
but one other thing needed
communication
It won't work without it
you know John?
if you love someone, tell her/him you love him
show it to her/him
how?
discuss what's going on in your life
tell her if you are afraid
tell her if you angry about something
tell her if you feel happy or joyful
let her talk about whats going on
what she's afraid of
this girl is not a super woman
this girl needs you very much
this girl is currently angry to you because she feels that you do not care about you
this girl is now facing a hard moment
she needs you to share her worriness
she needs you a lot
if its not you..who else?
a pray without a hope
I could not find a way to talk to you in a descent manner
I try to reach you everywhere
in every corner of my heart
between my cell tissue
and my heart beats
Lord, its hard for me praying without asking
I would try my best doing this pray without ask a single hope
Just to empty my chest from all the pain
agony
doubt
sorrow
because I know You hear
my 20th day before christmas
I am loosing perspective of my life
I love this man very much
he said he loves me but he does not care about me
if he does, he does not want to make an effort of contacting me
its hurt
its hurt to see my mail box empty
no reply from him
i just wanna a very simple thing like cindy hi hello how are u
but he never cares about that
broken prayer
Its very difficult to say one
not because I don't believe in God
not because I don't care about him
but
Each time I go and pray
there is a hope
and I found that its hurt of hopping
Its hurt when you found what you hope is never coming true
I should not do that
I should have pray without hoping
Start from now on
A pray without hoping
Wednesday, May 23, 2007
Aku ditakdirkan hidup diantara masa. Kekinian dan masa lampau yang samar-samar aku ingat dalam mimpiku. Ada kekosongan dan kerinduan untuk menemukan sang belahan jiwa karena dialah si empunya jawaban.
Penghujung bulan Agustus 2003, saat terakhirku menemui dosen dan bersidang membuktikan kelayakan skripsiku untuk diluluskan.
Dikala teman-teman seusiaku sudah sibuk berencana untuk tunangan segera setelah mereka lulus. Aku malah sebaliknya. Kadang aku merasa, Tuhan tidak menakdirkan aku untuk mengenal pria.
Tapi ternyata hal itu cuma pikiran konyol akibat rendah diri. Buktinya, Harseto, kawan SMPku yang ganteng itu, masih mau jadi kekasihku setahun belakangan. Bahkan dia yang tak hentinya mendorong aku cepat lulus.
Dia pria pertama yang mengaku cinta padaku dan mau jadi kekasihku. Maklum, aku hanya itik buruk rupa.
Berperawakan besar (kata halus dari gendut), berkulit gelap dan berjerawat. Aku juga sempat terheran heran, pria seganteng Seto mau menjalin hubungan dengan aku.
Dasar sedang mabok cinta, aku tak pernah tanya kenapa dia selalu absen mengapeliku tiap malam minggu. Batinku selalu tak apalah. Toh dia berhak jalan bareng sama teman yang lain.
Terik kota Jogja akhir Agustus dengan debunya yang bertebaran membuat aku malas keluar. Kulahap serial tivi favoritku sambil cari inspirasi menyelesaikan bab akhir skripsiku. Tak lama telponku berdering, Seto mengirimkan sms. Dia pamit hendak ke Jakarta, ketemu kakeknya katanya kangen.
Dengan polos aku mengetikkan balasannya di tuts-tuts hpku: Siemens C55. “Ok sayang, hati hati dijalan. Kabari kalau udah sampai diJakarta. “
Entah kenapa, hingga keesokan harinya tak juga dia mengirimkan sms. Mengabari apa dia sudah sampai atau belum. Kucoba menelpon nomernya, tak aktif. Ah mungkin dia capek dan ketiduran.
Atau batereinya habis. Aku selalu berpikiran positif, ya meski entah kenapa ibuku selalu saja merecoki ku dengan doktrin-doktrin kecurigaan. Acap kali dia bertanya padaku, “Kapan dia akan melamar kamu? Atau apakah dia benar benar serius? Dia ganteng lho, kamu...Aku sendiri takut ngelihat mukamu, kok bisa dia betah lihat kamu ya?”
Lagi-lagi aku hanya bisa mengurut dada. Memang seperti itu adatnya. Hari pertama Seto menghilang, aku masih bersabar. Hari kedua, telepon genggamnya tak juga aktif. Sialnya, aku tidak tahu dimana rumah orang tuanya, berapa nomer telpon mereka biar aku bisa menghubungi.
Aku benar-benar kalut. Kenapa dia justru menghilang sekarang, padahal dalam hitungan jam aku akan ujian pendadaran.
Lagi-lagi, wanita yang ironisnya adalah ibu kandungku, menggeberkan mentalku. Saat aku sedang tercenung, dia melirik dengan sebelah matanya dan bergumam. “Makanya ngaca...jangan percaya kalau dia cinta sama kamu. Alaaah, paling juga dia bohong. Mana ada pria seganteng dia mau sama kamu, sudah hitam, gendut, jerawatan lagi.”
Tak sanggup lagi aku mendengar gumamannya. Hatiku sakit seperti teriris, kadang aku bertanya; aku salah apa dan kenapa dia begitu membenci aku. Mungkin, dia menyesal kenapa bukan aku anak yang buruk rupa yang sakit dan meninggal? Kalau saja aku yang mati, mungkin adikku akan sangat ayu dan bisa dia banggakan. Bukan anak gadis berotak cemerlang tapi buruk rupa.
Lagi-lagi kenyataan berpihak pada ibuku. Dia memang benar. Kabar burung yang diterbangkan kakak sepupuku,Dian, hinggap juga di atap rumah kami.
Dengan nyinyirnya dia berkata pada ibuku,” Budhe- benar Noni (nama kecilku-red) pacaran sama Harseto? Walaaaaaaah, dia itu kan sudah tunangan. Mana tunangannya model lagi, pacar dia dari SMA. Kasihan bener Noni, kenapa Seto tega nipu dia?”
Sejuta belati dihujam kedalam hatiku. Aku berlari, tak sanggup memandang wajah prihatin ibuku yang bagiku adalah kemenangan dia. Bukti kalau apa yang dia katakan selama ini adalah benar.
Tapi sekaligus juga merasa tertipu. Jadi selama berbulan-bulan dia berbohong padaku. Semua kata cintanya palsu, aku benar-benar muak. Aku salah apa sama dia, kenapa dia bisa mengoyak hatiku demikian dalam dengan kepalsuannya.
Bagaimana dia bisa membuat aku bermimpi akan rumah masa depan kami, padahal dia tidak akan pernah mewujudkan mimpi itu. Dengan kasar, kuusap air mataku. Aku benar-benar tak ingin bertemu siapapun, tak juga ibuku.
Aku terjebak dalam keriuhan. Orang-orang memakai baju warna-warni dan semuanya berdansa di tengah jalan. Aku merasa begitu asing, begitu ketakutan dan terlalu banyak orang disekitarku.
Aku selalu tidak nyaman diramainya orang banyak. Kebingungan aku mencari sudut kosong di tengah riuh rendahnya orang berpesta. Kepalaku tiba-tiba terasa berat dan terhuyung aku melangkah lebar menghampiri tiang listrik didekatku. Aku berharap bisa bersandar sebentar hingga klaustrophobiaku lewat.
Tiba-tiba sesosok pria bertubuh tinggi besar berbaju hitam menarik aku keluar dari kerumunan orang-orang. Mengajak aku berlari menuju sudut kosong tak terjamah suasana pesta. Aku bergumam, tuan siapa Anda?
Aneh aku tak merasa takut. Malahan aku merasa sangat damai dan terbebas dari kesedihan yang menghimpitku. Matanya memandangku dengan sorot penuh welas asih, tangannya membelai lembut wajahku dan menjadikannya bersinar lembut.
Badannya terasa hangat ketika dia memelukku. Aku tenggelam dalam kedamaiannya. Sorot mata lembutnya memanjakan aku dan hati lukaku. Seolah dia berkata agar aku tidak takut, tak putus asa dan semuanya akan baik-baik.
Tuan andakah malaikatku, siapa nama Anda? Kumohon, katakan padaku nama Anda..dan jangan pergi lagi tinggalkan aku Tuan, aku memerlukan anda.
Mulutnya bergumam lembut. Menghembuskan nama asing yang tak pernah aku dengar sebelumnya. “Cindy....Cindy...”
Hah...tersentak aku terbangun dari mimpiku. Malaikatku yang senantiasa datang dalam mimpiku saat aku sedih. Manusia tak berupa yang selalu aku rindukan, malam ini dia menampakkan wajahnya padaku.
Mungkin dia hanyalah khayalanku saja dan aku harus kembali menapak dunia nyata. Menerima kenyataan kalau Seto berbohong padaku, bersiap menghadapi ujian yang tinggal dalam hitungan jam.
Lulus.
Bahagia, bisa jadi. Tak ada lagi beban moral dan aku berharap lekas mendapatkan pekerjaan. Tapi disisi lain ada perasaan hampa, pria yang katanya mencintaiku mendusta. Kala kawan-kawan lain wisuda menggandeng pendamping wisudanya, aku harus puas dengan orang tua dan eyangku. Bukan aku tak sayang, tapi rasa iri tetap ada.
Kenyataan kalau Seto benar-benar sudah bertunangan dengan Fransisca yang katanya model asal Bandung benar-benar menyakitiku. Mereka sudah berpacaran sejak kelas tiga SMA, kedua orang tua bahkan sudah setuju mereka cepat-cepat menikah. Pahit sekali pil yang di jejalkan ke mulutku.
Aku benar-benar tak terima ditipu begini. Rasanya kecewa karena aku dipermainkan. Berkat pertolongan teman, aku datangi dia dirumahnya.
Sore itu dia tengah bersiap menuju lapangan sepak bola. Dia memang hobi permainan yang satu itu. Senyumnya yang terurai tatkala membuka pintu langsung hilang saat menyadari sang tamu adalah aku. Wanita yang dikibulinya mentah-mentah.
Dengan nafas yang naik turun menahan amarah, aku menatap dia nanar. Dia tersenyum kecut menepis rasa gugupnya.
“Kenapa...kenapa kamu tega? Please bilang sama aku, aku butuh penjelasan!”
Dia hanya diam. Menunduk, menatap lantai.
“Pengecut!!! Bajingan kau, pembohong. Kau tahu aku sakit hati sama kamu....benar-benar sakit hati. “
Dia masih diam dan terus menunduk. Sejurus kemudian dia mendongak pelan. “Maaf..aku..kami iseng.”
“Kami...aku nggak ngerti. Apa maksud nya kami, siapa kami?”
Lantas dia menyuruh aku duduk. Panjang lebar dia bercerita. Ternyata kakak sepupuku berada dibaliknya.
Dengan sengaja, Dian menyuruh Seto mendekati aku dan memacariku. Ternyata dia iri karena otak cemerlangku jadi kebanggaan dimana mana.
Ah, dia kan punya pesona fisik yang katanya luar biasa. Wajahnya menarik, rambutnya hitam dan dia selalu tahu bagaimana bertutur kata pada orang lain. Sedang aku, tak punya itu semua. Bahkan aku adalah orang yang paling irit dalam berkata-kata.
Seto mengaku, Dianlah yang memberi dia nomer telponku. Dia menyuruh Seto mengganggu aku kalau perlu pacari aja sekalian. Seto memberanikan diri minta maaf, dia mengaku sebenarnya sayang padaku. “Maaf, jujur aku sayang sama kamu. Kamu orang yang baik. Tapi aku sudah tunangan sama Siska.”
“Iya, dan dia satu juta kali lebih cantik dari aku. Benar kan”
Dia berucap lirih; “Iya”
Aku cuma bisa terpaku. Kenyataan yang sangat menyakitkan. Ternyata aku tak lebihnya sebagai taruhan. Ibu ku selalu benar, aku tak layak dicintai. Karena aku buruk, jelek, geradakan. Pelan kuhapus air mata yang meleleh dipipiku, “thanks for everything and bye.” Ujarku sambil melangkah pergi.
Sayang akhir yang tak sama seperti film-film Hollywood, Harseto sama sekali tak keberatan aku pergi dan tidak memohon aku kembali. Kaitan nasib kami memang ditakdirkan untuk berakhir disitu. Setidaknya itu yang ada dalam pikiranku.
--------
Waktu itu, entah apa yang ada dalam pikiran ibuku melihat aku patah hati. Dia hanya tersenyum tipis sambil berujar, makanya jangan terlalu percaya pada cinta. Cinta- cinta taik kucing.
Kadang aku sendiri heran, bagaimana bisa wanita sesinis ibuku bisa menikah dengan pria sebaik bapakku. Meski tak cantik tapi aku merasa beruntung. Pasalnya, kata orang, aku sangat mirip dengan bapakku. Dia sangat pendiam, baik, pintar meski kesannya angker.
Ibuku kebalikannya. Dia kenes dan kemayu layaknya magnet yang diusianya menjelang 40, ia pun masih dikerumuni pria-pria. Dia tak berselingkuh, hanya terlalu ramah dan tak bisa mengendalikan talentanya.
Kesan pertama, pasti orang akan langsung simpati sama dia. Lain sama aku dan bapakku yang niscaya dilirik orang.
Dalam dongengannya, dia selalu bilang, “Ibu dulu cantik waktu masih muda. Badan ibu kecil, kulit ibu kuning dan wajah ibu ayu. Nggak seperti kamu, geradakan (kasar-red). Lihat dong gadis-gadis seusia kamu, kok mereka bisa berpenampilan menarik. Lihat itu esti, sri, kris; mereka kan hanya gadis kampung. Tapi mereka sepuluh kali lipat lebih menarik dari kamu. Padahal trah darah biru itu masih mengalir lho dalam dirimu, meskipun bapakmu cuma rakyat jelata. Ibu juga heran, kenapa kamu sama sekali ndak nurun ibu waktu masih muda dulu.”
Aku hanya diam, pura pura tak mendengar.
“Heh, kamu tahu? Waktu masih SMEA dulu, ibumu ini pacarnya orang India. Ganteng banget, putih. Sayang, mbah putrimu itu nggak setuju. Eh karena nggak bisa melarang, ibumu malah diusir dari rumah, dibuang kerumah Mbah Yut (Eyang Suyud-red). Tapi habis itu, ibumu ini dapat pacar lain yang ndak kalah ganteng. Orang Arab Surabaya, namanya Faisal. Ibu dengar sampai sekarang dia belum nikah, mungkin masih cinta sama ibu. Salah sendiri dia dulu ngilang, ndak ada kabar. Eh ibumu ini keburu dilamar bapakmu yang botak, hitam dan jelek itu. “
Kegemaran ibuku yang satu ini membuat aku tak betah berada disekitarnya. Entah kenapa juga aku ditakdirkan berperawakan seburuk ini yang tentu tak sebanding dengan kejayaan masa mudanya.
Jangankan pacar Arab atau India, pemuda lokal pun nggak ada yang mau sama aku.
Setengah tak percaya pada kenyataan kalau aku dijadikan obyek taruhan. Ingatanku melayang ke masa remaja, yang sama sekali jauh dari kesan manis.
Melewati usia 17, jerawatku makin hebat tumbuh diwajahku. Tak menyisakan sedikit saja ruang bernafas untuk kulit sehatku. Meski demikian, aku mencoba menumbuhkan rasa percaya diri karena aku pintar. Ya, meski aku tak pandai eksakta tapi aku sangat tertarik pada sejarah, politik dan bahasa asing.
Terlintas dalam benakku untuk berkarir dibidang politik luar negeri kelak kalau aku sudah dewasa.
SMA tempat aku belajar adalah sekolah unggulan. Siswanya memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Sayang, kecerdasan itu acap kali digunakan untuk menyakiti hati orang lain.
Dua bulan sebelum akhir tahun 1998, aku kelas tiga IPS waktu itu. Sekolah dihebohkan oleh kabar, seorang siswa kelas tiga IPA yang tiba-tiba gila.
Dia mengamuk dikelas, melemparkan semua buku yang ada diatas mejanya lantas menarik lepas ikatan rambutnya. Siswa pria terpaksa menahannya karena dia hendak membenturkan kepalanya ke dinding.
Siapa tak kenal Hetty. Dia berkawan rapat dengan para gadis top, kaya dan cantik. Meski dia tak secantik yang lain, dia selalu berusaha jadi menonjol. Tiap hari dia ke sekolah dengan gaya yang atraktif, rok pendek yang sudah jadi khas kawan se-gengnya dan rambut dikuncir kuda. Bibirnya dipulas lipgloss sampai mengkilap dan bulu matanya dilentikkan dengan maskara.
Mungkin itu prasyarat untuk bergaul dengan geng cantik itu. Aku hanya mengamati dari jauh karena aku bukan orang kaya dan jelas aku tidak cantik.
Tak lama berselang, ku dengar gosip dari kawan-kawan lain: Hetty jadi rebutan. Dua laki-laki, yang notabene ganteng dan idola, merebutkan dia. Sempat juga aku merasa iri dengan keberuntungan Hetty.
Aku tidak akan dilirik apalagi sampai diperebutkan sama pria-pria itu.
Gosip kian santer, bahkan kedua anak yang dulunya bersahabat, kini bermusuhan karena berlomba mendapatkan cinta Hetty.
Hetty sendiri kelihatan bimbang. Dia mungkin bingung milih siapa. Toh, akhirnya dia memilih juga memenangkan hati pria terpopuler di sekolah-salah satu dari yang ngerebutin dia-dan menyisihkan yang lain.
Hampir sebulan lebih mereka jalan bareng, sampai kejadian heboh itu.
Kenyataan memang sangat pahit untuk Hetty. Hati remajanya yang baru berbunga harus dibakar dengan penipuan. Dia jadi korban taruhan dan gilanya justru teman segengnya yang mengumpankan dia.
Hanya untuk makan gratis di KFC, mereka tega membuat Hetty depresi. Sejak hari itu, dia tak pernah masuk lagi. Aku dengar dia nekad menggunduli kepalanya dan dalam kondisi stress berat.
Entah apa yang dirasa orang-orang yang bertaruh atas keluguannya. Senang atau malah menyesal. Yah, percuma toh mereka takkan bisa memutar waktu.
------
Perasaan Hetty bisa aku mengerti karena aku pernah merasakan hal yang sama. Meski tak sepedih dia.
Setiap ngaso, aku selalu pergi ke kelas temanku. Aku ada di IPS 1 dan mereka ada di IPA 2. Artinya aku harus melewati sekitar 6 kelas lainnya. Entah kenapa, tiap kali aku berpapasan dengan anak laki-laki yang nongkrong di depan kelas sembari menunggu lonceng masuk, mereka selalu bersuit-suit dan memanggil nama yang berbeda dari hari ke hari. Hari ini Rudy, mungkin besok Catur, besoknya lagi Isman.
Lama aku baru tersadar mereka memperolokku. Padahal aku tidak pernah salah pada mereka, tak pernah mengganggu mereka. Itu membuat aku tak bisa mengerti dan sangat marah. Tak mengerti kenapa mereka harus mengganggu aku.
Apakah kejadian Hetty tak juga membuat mereka belajar. Mudah benar mereka menyakiti perasaan orang.
Aku pulang dengan berderai air mata. Berminggu-minggu aku mengurung diri dikelas meski sedang istirahat. Di rumah, ibuku selalu mengingatkan agar aku tahu diri. Kalau aku tidak cantik bahkan memuakkan, makanya jangan sering keluar-keluar.
Eyangku-orang tua angkat bapakku- satu satunya orang yang aku yakin bisa mengerti aku. Mereka sayang dan selalu menganggap aku cucu paling cantik meski aku dikatai geradakan oleh ibuku sendiri.
Mereka berwejang, “ Sudah tho nduk, nggak usah didengarkan kata-kata ibumu. Cuma bikin sakit kuping. Orangnya memang begitu, mbahmu sendiri juga heran kenapa dia tega sekali tiap hari menyakiti kamu. Padahal kamu kan tidak salah apa-apa.”
Aku cuma menggeleng. “Ndak tahu mbah, mungkin aku memang benar-benar jelek dan sangat memalukan.”
Eyang kakungku hanya menggeleng sambil menghisap dalam rokok kretek buatannya. Baunya yang harum dan khas menyentuh hidungku dan membuat aku melayang pada masa kecilku.
Sunday, May 20, 2007
Preface
Terjawablah sudah bayangan yang selama ini membuntuti aku. Perempuan yang aku lihat dalam mimpiku itu adalah aku. Dan aku telah menemukan cintaku. Tugasku selesai sudah wahai penguasa masa lalu.
Satu pintaku, ketika kelak aku terlahir kembali jangan kau bayangi lagi masa laluku. Aku ingin lahir sebagai gadis biasa, yang menikmati masa demi masa dengan manisnya impian remaja.
Tugasku sudah purna.
Seringan bulu, sukmaku keluar dari raga. Aku melihat sekelilingku, seorang pria berwajah penuh welas asih, raganya terbujur kaku disampingku. Sebelah tangannya memegang erat tanganku bagai simbol rantai tak terpisahkan. Seulas senyumnya pertanda janji sehidup semati.
Sukmanya berpendar putih, tersenyum tatkala dia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku raih jemarinya, ku bisikkan. "Sayang ku tepati janjiku, aku pulang bersamamu."
Tangisan bayi dari balik cakrawala menyadarkanku akan keberadaan buah hati kami. "Kita berhasil sayang, inti bumi akan menjaganya. Kita bisa pergi bersama menjelajah bumi antara sekarang," ujar suamiku, John sembari tersenyum.
Ku rasakan mataku melembab oleh cairan kehilangan. Tak mampu sebenarnya aku kehilangan bayi mungil yang tangisan pertamanya pun masih aku ingat. Pelan John meraihku dan memeluk aku: "Aku akan merindukan celotehnya sayang."
Rasanya ingin ku kejar dan ku ambil kembali sang jabang bayi tapi awan awan putih yang berarak sudah mengangkat kami. Kemurkaan bumi sudah berakhir dan langit meneteskan kembali kasihnya lewat uraian hujan demi menghidupkan kembali benih yang tersisa.
Dari awang awang, kami melihat kehancuran semesta. Tak banyak yang tersisa, kejayaan manusia habis. Keangkuhannya sama sekali tidak tersisa. Pencakar langit yang kemarin berdiri tegak berkilauan tak tersisa kini. Jalan jalan yang menghubungkan benua luluh tak bersisa. Hanya lubang lubang yang menggoreskan bopeng hitam.
Peristiwa ini bagian dari hidup kami. Kini, purna sudah tugas itu. Pertemuan kami adalah perjalanan panjang yang melelahkan, buah persatuan tubuh kami adalah peleburan jiwa, anak yang ditakdirkan menjadi kunci nasib dunia.
Sudah suratan, kami dititiskan menjadi pemegang kunci langit dan bumi. Dipisahkan sedemikian jauh, namun jiwa kami merindu satu sama lain. Kerinduan yang lebih besar dari kekuatan manapun. Naas, kerinduan kami adalah sangkakala mau dunia.
Sejam yang lalu..ah bukan, aku lupa ..rasanya aku kehilangan konsep waktu. Aku dan suami ku berlarian diantara kepungan api yang menyergap dari berbagai arah. Dipelukanku, bayi kami belum genap tiga bulan tergoncang goncang dan mulai membiru karena ketakutan.
Aku berteriak pada suamiku, "sayang aku tak kuat lagi, anak kita sudah ketakutan."
Dia menengok dan meraih tanganku. "Jangan berhenti. Mereka tak kan berhenti menghujani bumi dengan api sebelum mereka menghabisi nyawa kita dan nyawa anak kita"
"Lari sayang. Kalaupun kita harus mati, kita tetap harus menyerahkan anak kita ke inti bumi."
Diraihnya bayi kami dari pelukanku. Dengan tersengal di rengkuhnya ia di dadanya.
Lemparan merah bola raksaksa menghujam tak jauh dari tempat kami berdiri. Mencabik setiap gedung, menghanguskan pepohonan hingga ke akar akarnya. Lubang besar menganga dibalik asap kelabu yang mengepul dari dalamnya.
Kakiku lumpuh seketika. Diantara ribuan orang yang berlari melawan kami, berteriak, menangis dan menyebut nama pencipta yang bagi mereka, kemarin, telah uzur dan tak bermakna.
"Cindy lari..ayo..." Diraihnya tanganku dan kami kembali berlari menyeruak arus manusia.Lontaran bola api dari langit kian membayangi kematian kami. Bebauan daging manusia yang hangus memuakkan hidung.
Tak kami indahkan semua kegetiran itu, terus kami berlari menuju inti bumi dibalik matahari tenggelam.



