Sunday, May 20, 2007

Preface

Rembang petang, sinar sang surya perlahan memerahkan cakrawala. Pelan ia menyusup diantara mega mega. Semilir angin senja nan cerah di penghujung musim penghujan menggugurkan bunga flamboyan mencium aroma wangi ibu bumi. Kembali pada sang asal.

Terjawablah sudah bayangan yang selama ini membuntuti aku. Perempuan yang aku lihat dalam mimpiku itu adalah aku. Dan aku telah menemukan cintaku. Tugasku selesai sudah wahai penguasa masa lalu.

Satu pintaku, ketika kelak aku terlahir kembali jangan kau bayangi lagi masa laluku. Aku ingin lahir sebagai gadis biasa, yang menikmati masa demi masa dengan manisnya impian remaja.

Tugasku sudah purna.

Seringan bulu, sukmaku keluar dari raga. Aku melihat sekelilingku, seorang pria berwajah penuh welas asih, raganya terbujur kaku disampingku. Sebelah tangannya memegang erat tanganku bagai simbol rantai tak terpisahkan. Seulas senyumnya pertanda janji sehidup semati.

Sukmanya berpendar putih, tersenyum tatkala dia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku raih jemarinya, ku bisikkan. "Sayang ku tepati janjiku, aku pulang bersamamu."

Tangisan bayi dari balik cakrawala menyadarkanku akan keberadaan buah hati kami. "Kita berhasil sayang, inti bumi akan menjaganya. Kita bisa pergi bersama menjelajah bumi antara sekarang," ujar suamiku, John sembari tersenyum.

Ku rasakan mataku melembab oleh cairan kehilangan. Tak mampu sebenarnya aku kehilangan bayi mungil yang tangisan pertamanya pun masih aku ingat. Pelan John meraihku dan memeluk aku: "Aku akan merindukan celotehnya sayang."

Rasanya ingin ku kejar dan ku ambil kembali sang jabang bayi tapi awan awan putih yang berarak sudah mengangkat kami. Kemurkaan bumi sudah berakhir dan langit meneteskan kembali kasihnya lewat uraian hujan demi menghidupkan kembali benih yang tersisa.

Dari awang awang, kami melihat kehancuran semesta. Tak banyak yang tersisa, kejayaan manusia habis. Keangkuhannya sama sekali tidak tersisa. Pencakar langit yang kemarin berdiri tegak berkilauan tak tersisa kini. Jalan jalan yang menghubungkan benua luluh tak bersisa. Hanya lubang lubang yang menggoreskan bopeng hitam.

Peristiwa ini bagian dari hidup kami. Kini, purna sudah tugas itu. Pertemuan kami adalah perjalanan panjang yang melelahkan, buah persatuan tubuh kami adalah peleburan jiwa, anak yang ditakdirkan menjadi kunci nasib dunia.

Sudah suratan, kami dititiskan menjadi pemegang kunci langit dan bumi. Dipisahkan sedemikian jauh, namun jiwa kami merindu satu sama lain. Kerinduan yang lebih besar dari kekuatan manapun. Naas, kerinduan kami adalah sangkakala mau dunia.

Sejam yang lalu..ah bukan, aku lupa ..rasanya aku kehilangan konsep waktu. Aku dan suami ku berlarian diantara kepungan api yang menyergap dari berbagai arah. Dipelukanku, bayi kami belum genap tiga bulan tergoncang goncang dan mulai membiru karena ketakutan.

Aku berteriak pada suamiku, "sayang aku tak kuat lagi, anak kita sudah ketakutan."

Dia menengok dan meraih tanganku. "Jangan berhenti. Mereka tak kan berhenti menghujani bumi dengan api sebelum mereka menghabisi nyawa kita dan nyawa anak kita"

"Lari sayang. Kalaupun kita harus mati, kita tetap harus menyerahkan anak kita ke inti bumi."

Diraihnya bayi kami dari pelukanku. Dengan tersengal di rengkuhnya ia di dadanya.

Lemparan merah bola raksaksa menghujam tak jauh dari tempat kami berdiri. Mencabik setiap gedung, menghanguskan pepohonan hingga ke akar akarnya. Lubang besar menganga dibalik asap kelabu yang mengepul dari dalamnya.

Kakiku lumpuh seketika. Diantara ribuan orang yang berlari melawan kami, berteriak, menangis dan menyebut nama pencipta yang bagi mereka, kemarin, telah uzur dan tak bermakna.

"Cindy lari..ayo..." Diraihnya tanganku dan kami kembali berlari menyeruak arus manusia.Lontaran bola api dari langit kian membayangi kematian kami. Bebauan daging manusia yang hangus memuakkan hidung.

Tak kami indahkan semua kegetiran itu, terus kami berlari menuju inti bumi dibalik matahari tenggelam.

No comments: